Suzie Sastra Inspirasi

Sabtu, 07 Februari 2009

Cerpen

Sarung Coklat Raka
Oleh : Sugiarti

07-Feb-2009, 17:03:31 WIB - [www.kabarindonesia.com]

Ia lihat dirinya jauh dalam kenangan, berlarian di jalan setapak yang sangat ia kenal. Menjinjing layang-layang yang ia buat dari bambu milik Pak Sadikin. Kala itu Raka, bocah kecil asal Desa Wonosari seberang yang kerap menemaninya mengejar layang-layangnya yang sering putus. Kadang tersangkut di pohon mangga sebelah rumahnya. Suasana senja adalah saat-saat menyenangkan. Terlebih kalau deru angin kencang. Bisa sampai menjelang maghrib ia baru pulang ke pondok sederhananya. Itu pun kalau ibunya sudah berteriak-teriak. “Arya…pulang nak! Mandi dan pergi ke surau!”. Surau? Ya…ibunya yang paling telaten menyuruhnya pergi mengaji setiap petang ke surau.


Kadang ia malas. Malu dengan teman-temannya. Sarung coklat milik ayahnya, satu-satunya yang sering ia pakai sudah terlalu tua dan kusam. Meski setiap hari ibunya selalu menyetrikanya, tetap saja tak bisa menutupi usia sarung tersebut. Untung kadang Raka berbaik hati, sering dipinjamkannya sarung pada Arya. Maklum saja, Raka dari segi ekonomi sangat jauh berbeda dengan Arya. Ayahnya pedagang sukses di desanya. Ia satu sekolah dengan Raka. Kecemerlangan otak Arya membuat Raka semakin betah bersahabat dengan Arya. Nasib saja yang membedakan masa depan mereka.

Sreekk…Arya menggeser bingkai kecil itu dari mejanya. Matanya kembali terfokus dengan layar Microsoft Word di hadapannya. Kerinduan itu ia tumpahkan di layar putih di depannya. Bait demi bait mengalir lepas begitu saja. Mungkin itu bakat alaminya menulis puisi. Pernah terpikir olehnya mengasah bakat tersebut. Belajar dengan penyair terkenal di daerahnya. Tapi sampai detik ini niat itu masih sebatas niat saja. Agaknya tulisan-tulisan nonfiksi masih lebih mendominasi minatnya.

“Kau tak pulang Ya?” Angga tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. “Pulang kemana?” Angga terdiam.

Ia baru ingat Arya sudah tak punya siapa-siapa. Di desanya yang ada Cuma tetangga-tetangganya dulu. Ibunya sudah meninggal saat Arya duduk semester awal di bangku universitas. Pulang ke kampung halamannya sama saja menjemput kepedihan hidup.
“Oke deh, sorry ya. Aku pulang dulu. Kau dan Reza yang tinggal. Kunci kamar kutitip ke Reza, kalau kau perlu apa-apa di kamarku minta saja ke Reza.”

Angga berlalu. Arya menoleh sekilas. Buru-buru ditepisnya keinginan untuk mengunjungi Desa Wonorejo tempat kelahirannya. Diraihnya novel tebal di depannya. Ia tersenyum kecil melirik nama si pengarang novel tadi, Raka Aryadinata. Nama pena Raka sahabatnya yang diadopsi dari namanya. Raka kini telah menjadi penulis terkenal. Novel terbarunya terjual best seller di tanah air. Setahun lalu Ia dan keluarganya pindah ke Jakarta. Belakangan juga terdengar kabar Raka dapat tawaran S2 ke Jerman.

‘Ah…kau beruntung Raka’ desis Arya.

Hidup ini memang bukan sebuah novel. Kenyataannya Arya yang sejak dulu serba kekurangan tetap saja seperti itu hari ini. Jangan dibilang ia tak berusaha. Sejak ibunya meninggal, ia banting tulang kerja memenuhi kebutuhan hidup dan biaya kuliah sendiri. Mulai dari bisnis pulsa, order spanduk, bisnis elektronik, kerja part time di rumah makan dan seterusnya. Beruntung ia sering dapat beasiswa. Cukup membantu biaya penelitian kuliahnya. Tapi Raka, sejak kecil ia sudah hidup serba cukup. Dengan mudah ia bisa kuliah di universitas yang ia sukai. Orang tuanya selalu bersedia membiayai segala bentuk keinginan Raka untuk mengembangkan bakat dan potensi dirinya. Tak heran kalau sekarang ia jadi penulis terkenal. Diundang kemana-mana keliling Indonesia.

Arya menutup lamunannya. Ia teringat malam nanti malam Idul Adha. Ia harus ke surau lebih awal, membantu Bang Mudin mengemas surau untuk persiapan takbiran bersama. Diakhiri tulisannya di layar komputer dengan kalimat “Sesungguhnya rezeki tiap hamba Mu sudah tertakar Ya Allah”.

Tepat pukul 23.00 Wib Arya sampai di rumah. Reza sudah dari tadi mengurung diri di kamar. Dipungutnya telepon seluler miliknya yang ia tinggalkan begitu saja di atas tempat tidur. Lima pesan masuk. Satu persatu dibukanya. Sampai pada pesan ke empat sebanyak tiga halaman sms: “Assalamualaikum. Ya…apa kabarmu? Kaget ya? Aku Raka. Aku dapat nomor hp mu dari Roni. Kemarin dia ke Jakarta ikut work shop yang aku isi. Maaf ya lama tak kasih kabar. Tapi aku ada kejutan. Malam ini aku dan ibuku terbang ke Pekanbaru. Aku bawa buku terbaruku untukmu. Ada sarung juga Ya. Warna coklat seperti milikmu dulu. Nanti kita sama-sama pergi ke Wonorejo n Wonosari ya, Tunggu aku Ya!”.

Arya tersenyum bahagia saat itu. Senyum terakhir untuk sahabat lamanya yang selalu baik padanya. Sebab Raka tak menepati janjinya malam itu untuk menemui Arya di rumah kontrakannya.

Pagi Idul Adha semakin menggetirkan untuk Arya. Selepas shalat ia izin dengan Bang Mudin tidak bisa membantu pelaksanaan kurban di surau. Ia langsung kembali ke kontrakannya. Beberapa helai pakaian asal ia masukkan ke dalam ransel. Sekilas ditatapnya bingkai foto di mejanya. Senyum Raka masih terkembang di sana. Dibalikkannya bingkai foto tadi dan dimasukkannya dalam ransel. Arya teringat sarung coklatnya masih di lemari, bergegas dilipatnya dan dimasukkan dalam ransel.

Ada butir-butir kristal tersembunyi di sudut mata Arya. Pikirannya menerawang jauh melintasi jalan-jalan panjang menuju Desa Wonosari. Ban mobil terasa bergerak sangat lambat. Dia harus sampai ke Desa Wonosari paling tidak pukul 11.00 Wib. Upacara pemakaman Raka dan Ibunya pukul 11.30 Wib. Ia ingin bercerita di depan Raka saat ia mulai belajar menulis puisi. Saat ia pertama kali membaca novel Raka. Ia juga ingin menagih janji Raka, mengajaknya jalan-jalan ke Wonorejo dan meminta sarung coklat pemberiannya. Ya… Allah, butiran pertama di sudut mata Raka akhirnya jatuh. Disapunya perlahan, ia sudah berjanji 5 tahun yang lalu untuk tidak menangis lagi setelah ibunya meninggal.

Arya menjatuhkan ranselnya. Wonosari begitu ramai hari ini. Seorang penulis muda kembali ke tanah kelahirannya. Tapi kembali hanya dengan sebuah nama. Kerumunan wartawan terlihat di rumah lama Raka. Beberapa diantara mereka sibuk membahas penyebab pesawat yang ditumpangi Raka gagal lepas landas. Arya melangkah menuju pintu rumah samping.

“Kau Arya…” seraut wajah kusut Om Jaya ayah Raka menyambutnya. Didekapnya Arya. Arya tahu kepedihan hati Om Jaya. Sekuat tenaga Arya menahan kesedihannya.

“Kemarin dia sempat bawa ini untukmu Nak”, Om Jaya menghulurkan bungkusan plastik biru. Arya sudah bisa menebak isinya. Sarung coklat dan Novel terbaru Raka. Arya menyimpan baik-baik bingkisan itu. Sama seperti ia mengabadikan nama Raka dalam perjalanan hidupnya. Dan Raka juga telah mengabadikan namanya di dunia melalui tulisan-tulisannya.


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: http://kabarindonesia.com/

0 komentar:

PESAN NAFIAH


codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=8,0,0,0"
width="400" height="56" id="TextSpace">






LCD Text Generator at TextSpace.net

 

Home | Blogging Tips | Blogspot HTML | Make Money | Payment | PTC Review

Nafiah AlMa'rab © Template Design by Herro | Publisher : Templatemu